Kepemimpinan


Definisi Kepemimpinan

Soebagio Sastrodiningrat (1998) memberikan penjelasan tentang kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan kelompok, menuju kearah penentuan tujuan dan mencapai tujuan.

Gillies (1994) mendefinisikam kepemimpinan berdasarkan kata kerjanya, yaitu lo lead, yang mempunyai arti beragam seperti untuk memandu (to guide), untuk menjalankan dalam arah tertentu (tirun in a specific direction), untuk mengarahkan (to direct), berjalan kedepan (to go at the head of), menjadi yang pertama (to be first), membuka permainan (to open play),  dan cenderung ke hasil yang pasti (to tend toward a definite result).

Hersey & Blanchard (1977) mengartikan kepemimpinan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan melalui individu dan kelompok untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Feishman (1973) mengartikan kepemimpinan (leardership) sebagai suatu kegiatan yang menggunakan proses komunikasi untuk mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok kearah pencapaian tujuan dalam situasi tertentu.

Kadarman & Udaya (1994) kepemimpinan didefinisikan sebagai suatu seni, karena kepemimpinan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang dan hanya orang tertentu yang memiliki “ rasa tertentu.”
Nursalam (2000 : 64-65) menjelaskan pengembangan teori kepemimpinan menjadi dua yaitu :
a. Teori “Trait “ (Bakat)

Teori ini menekankan bahwa setiap orang adalah pemimpin (pemimpin dibawa sejak lahir bukan didapatkan) dan mereka mempunyai karakteristik tertentu yang membuat mereka lebih baik dari orang lain. Teori ini disebut dengan “Great Man Theory”.

Teori ini mengidentifikasikan karakteristik umum tentang yaitu :

  1. Intelegensi (pengetahuan, pengambilan keputusan dan kelancaran berbicara).
  2. Personaliti/kepribadian (adaptasi, kreatif, kooperatif, siap/siaga, rasa percaya diri, integritas, keseimbangan emosi dan mengontrol, independent dan tenang).
  3. Kemampuan/perilaku (kemampuan bekerjasama, kemampuan interpersonal, kemampuan diplomasi, partisipasi sosial)
b. Teori Perilaku 
Teori perilaku lebih menekankan pada apa yang dilakukan pemimpin dan bagaimana seorang manajer menjalankan fungsinya. Perilaku seorang manajer menjalankan fungsinya. Perilaku sering dilihat sebagai suatu rentang dari sebuah perilaku otoriter ke domokratik atau dari focus  suatu produksi ke focus pegawai.


Gaya Kepemimpinan

Gaya diartikan sebagai suatu cara penampilan karakteristik atau tersendiri, Gillies (1996), menyatakan bahwa gaya kepemimpinan dapat didefinisikan berdasarkan perilaku pemimpin itu sendiri. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh adanya pengalaman bertahun-tahun dalam kehidupannya, oleh karena itu kepribadian seseorang akan mempengaruhi gaya kepemimpinan yang digunakan. Gaya kepemimpinan seseorang cenderung sangat bervariasi dan berbeda-beda.
Menurut para ahli terdapat beberapa gaya kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam suatu organisasi antara lain :
Hersey dan Blanchard (1997), gaya kepemimpinan meliputi :
  • Instruksi

  1. Tinggi tugas dan rendah hubungan
  2. Komunikasi searah
  3. Pengambilan keputusan berada pada pimpinan, peran bawahan sangat minimal
  4. Pemimpin banyak memberikan pengarahan atau instruksi yang spesifik serta mengawasi dengan erat


  • Konsultasi

  1. Tinggi tugas dan tinggi hubungan
  2. Komunikasi dua arah
  3. Peran pemimpin dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan cukup besar, bawahan diberi kesempatan untuk memberikan masukan dan menampung keluhan


  • Partisipasi

  1. Tinggi tugas tapi rendah tugas
  2. Pemimpin dan bawahan bersama-sama memberi gagasan dalam pengambilan keputusan


  • Delegasi

  1. Rendah hubungan dan rendah tugas
  2. Komunikasi dua arah, terjadi diskusi antara pemimpin dan bawahan dalam pemecahan masalah serta bawahan diberi delegasi untuk mengambil keputusan

Prof. DR, H, Soebagio S, MPA (1999), terdapat tiga gaya kepemimpinan yaitu :
a. Otoriter
Gaya ini memiliki cirri-ciri sebagai berikut :
  1. Wewenang mutlak berada pada pemimpin
  2. Keputusan dan kebijaksanaan selalu dibuat oleh pimpinan
  3. Komunikasi berlanhsung satu arah dari pimpinan kepada bawahan
  4. Pengawasan terhadap sikap, tingka laku, perbuatan atau kegiatan para bawahan dilakukan secara ketat
  5. Prakarsa harus selalu berasal dari pimpinan
  6. Tidak ada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan saran, pertimbangan atau pendapat.
  7. Lebih banyak kritik daripada pujian
  8. Cenderung adanya paksaan, ancaman dan hukuman
  9. Tanggung jawab keberhasilan organisasi hanya dipikul oleh pimpinan


b. Demokrasi
Kepemimpinan gaya demokrasi adalah kemampuan dalam mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, berbagai kegiatan yang akan dilakukan bersama-sama antara pimpinan dan bawahan. Gaya ini memiliki cirri-ciri antara lain :
  1. Wewenang pimpinan tidak mutlak
  2. Pimpinan bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan
  3. Keputusan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan
  4. Komunikasi berlangsung timbal balik
  5. Pengawasan dilakukan secara wajar
  6. Prakarsa dapat datang dari bawahan
  7. Banyak kesempatan dari bawahan untuk menyampaikan saran dan pertimbangan
  8. Pujian dan kritik seimbang
  9. Terdapat saling percaya, saling hormat menghormati dan saling menghargai
  10. Tanggung jawab keberhasilan organisasi ditanggung secara bersama-sama

c. Liberal atau Laissez Faire
Kepemimpinan gaya liberal adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan dengan berbagai kegiatan dan pelaksanaannya dilakukan lebih banyak diserahkan kepada bawahan. Gaya kepemimpinan ini dicirikan sebagai berikut :
  1. Pemimpin melimpahkan wewenang sepenuhnya kepada bawahan
  2. Keputusan lebih banyak dibuat oleh bawahan
  3. Kebijaksanaan lebih banyak dibuat oleh bawahan
  4. Pimpinan hanya berkomunikasi apabila diperlukan oleh bawahan
  5. Hampir tiada pengawasan terhadap tingkah laku bawahan
  6. Prakarsa selalu berasal dari bawahan
  7. Hampir tiada pengarahan dari pimpinan
  8. Peranan pimpinan sangat sedikit dalam kegiatan kelompok
  9. Kepentingan pribadi lebih penting dari kepentingan kelompok
  10. Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul oleh perorangan

Gillies (1996), Gaya kepemimpinan berdasarkan wewenang dan kekuasaan dibedakan menjadi 4 yaitu :
a. Otoriter
Merupakan kepemimpinan yang berorientasi pada tugas atau pekerjaan. Menggunakan kekuasaan posisi dan kekuatan dalam memimpin. Pemimpin menentukan semua tujuan yang akan dicapai dalam pengambilan keputusan. Informasi diberikan hanya pada kepentingan tugas. 
b. Demokrasi
Merupakan kepemimpinan yang menghargai sifat dan kemampuan setiap staf menggunakan kekuasaan posisi dan pribadinya untuk mendorong ide dari staf, memotivasi kelompok untuk menentukan tujuan sendiri, membuat rencana dan pengontrolan dalam penerapannya. Informasi diberikan seluas-luasnya dan terbuka.
c. Partisipatif
Merupakan gabungan antara otokratik dan demokrasi, yaitu pemimpin yang menyampaikan hasil analisa masalah dan kemudian mengusulkan tindakan tersebut pada bawahannya. Staf diminta saran dan kritiknya serta mempertimbangkan respon staf terhadap usulannya dan keputusan akhir ada pada kelompok
d. Bebas Mutlak
Merupakan pimpinan official, karyawan menentukan sendiri kegiatan tanpa pengarahan, supervise dan koordinasi. Staf/bawahan mengevaluasi pekerjaan sesuai dengan caranya sendiri. Pimpinan hanya sebagai sumber informasi dan penbendalian secara minimal.

Sedangkan pendapat Hasibuan (2005 : 172 – 173), bahwa gaya klepemimpinan ada 4 yaitu :

a. Kepemimpinan Otoriter 
Adalah jika kekuasaan atau wewenang, sebagian besar mutlak tetap berada pada pimpinan atau kalau pimpinan itu menganut system sentralisasi wewenang. Pengambilan keputusan dan kebijaksanaan hanya ditetapkan sendiri oleh pemimpin, bawahan tidak diikutsertakan untuk memberikan saran, ide dan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.
Pemimpin menganggap dirinya orang yang paling berkuasa, paling pintar dan paling cakap. Pengarahan bawahan dilakukan dengan memberikan intruksi/perintah, ancaman hukuman, serta pengawasan dilakukan secara ketat.

Orientasi kepemimpinannya difokuskan hanya untuk peningkatan produktivitas kerja karyawan dengan kurang memperhatikan perasaan dan kesejahteraan bawahan. Pimpinan menganut system manajemen tertutup (close management) kurang menginformasikan keadaan perusahaan pada bawahannya.

b. Kepemimpinan Partisipatif
Adalah apabila dalam kepemimpinannya dilakukan dengan cara persuasive, menciptakan kerjasama yang serasi, menumbuhkan loyalitas, dan partisipasi para bawahan. Pemimpin memotivasi bawahan agar merasa ikut memiliki perusahaan.
Bawahan harus berpartisipasi memberikan saran, ide dan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan. Keputusan tetap dilakukan pimpinan dengan mempertimbangkan saran atau ide yang diberikan bawahannya. Pimpinan menganut system manajemen terbuka (open management) dan desentralisasi wewenang..
Pemimpin dengan gaya partisipatif akan mendorong kemampuan bawahan mengambil keputusan. Dengan demikian, pemimpin akan sellau membina bawahan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar.

c. Kepemimpinan Delegatif
Adalah apabila seorang pemimpin mendelegasikan wewenang kepada bawahan dengan agak lengkap. Dengan demikian, bawahan dapat mengambil keputusan dan kebijaksanaan dengan bebas dan leluasa dalam melaksanakan pekerjaannya. Pemimpin tidak perduli cara bawahan mengambil keputusan dan mengerjakan pekerjaannya, sepenuhnya diserhakan kepada bawahan.
Bawahan dituntut memiliki kematangan dalam pekerjaan (kemampuan) dan kematangan psikologis (kemauan). Kematangan pekerjaan dikaitkan dengan kemampuan untuk melakukan sesuatu yang berdasarkan pengetahuan dan keterampilan. Kematangan psikologis dikaitkan dengan kemauan atau motivasi untuk melakukan sesuatu yang erat kaitannya dengan rasa yakin dan keterikatan.

d. Kepemimpinan Situasional
Fokus pendekatan situasional terhadp kepemimpinan terletak pada perilaku yang diobseravsi atau perilaku nyata yang terlihat, bukan pada kemampuan atau potensi kepemimpinan yang dibawa sejak lahir. Penekanan pendekatan situasional adalah pada perilaku pemimpin dan anggota/pengikut dalam kelompok dan situasi yang variatif.
Menurut kepemimpinan situasional, tidak ada satu pun cara yang terbaik untuk mempengaruhi orang lain. Gaya kepemimpinan mana yang harus digunakan terhadap individu atau kelompok tergantung pada tingkat kesiapan orang yang akan dipengaruhi.
Dari berbagai pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan (leadershif ), merupakan aspek penting  bagi seorang pemimpin sebab dia harus mampu melakukan berbagai aktivitas dan peran kepemimpinan untuk merencanakan, menggerakan, memotivasi dan mengendalikan anggota kelompok mencapai tujuan yang telah menjadi kesepakatan bersama. Untuk melancarkan maksud tersebut maka sebagai seorang pemimpin harus mampu memilih dan memilah perilaku kepemimpinan mana yang sekiranya tepat untuk dilaksanakan, disamping kemampuan berkomunikasi secara efektif kepada anggota kelompoknya. Dengan kemmapuan tersebut maka seorang pemimpin (kepala bangsal, kepala ruangan dan sejenisnya) di rumah sakit akan mampu melakukan seluruh kegiatannya secara efektif dan efisien. Pada akhirnya diperoleh kualitas keperawatan dan kepuasan baik bagi perawat maupun bagi pasien dan keluarganya



No comments:

Post a Comment